Sudah lama tak pernah menuliskan coretan di blog pribadi ini, dikarenakan kesibukan di rumah. Disamping itu yang terutama adalah kerasnya hati membuat saya tak pernah bisa untuk mencoretkan ketikan di blog penyemangat hidupku ini. Kehidupan sebagai ibu rumah tangga, terkadang membuat hati saya bimbang, bagaimanakah kehidupan saya di hari tua? Bergaul dengan orang-orang yang 99 persen selalu mengorientasikan dunia sebagai penunjang hidup, membuat saya seperti terombang ambing di lautan lepas. Begitu banyak manusia disekeliling ketakutan untuk hari tua tanpa tunjangan. Entahlah kenapa semua berorientasi pada materi? Mungkin hanya ada 1 orang diantara berjuta-juta orang yang memberikan nasihat kepada saya “jangan takut pada kehidupan dunia, Dialah penjamin hamba-Nya. Dia tak akan pernah membiarkan hamba-Nya hidup dalam kesusahan, maka ingatlah Dia Selalu”. Allahu Akbar.
Di satu sisi, saya pernah hidup bersama dengan orang-orang yang selalu bekerja dengan seperlunya, tanpa harus mati-matian mengumpulkan harta benda untuk mencukupi kebutuhan di hari tuanya kelak. Mereka selalu meletakkan pondasi dalam diri, bahwa Allah akan selalu memberikan jalan bagi umat-Nya dan tak akan pernah membiarkan umat-Nya dalam kondisi kekurangan secuilpun selama mereka mencintai-Nya dan “nerimo”akan hidup setelah berusaha. Dalam kesibukan dan lelahnya bekerja, mereka masih sempat untuk mencintai-Nya. Tak pernah melupakan yang sunnah sebelum yang wajib, Qur’an yang selalu membasahi lidah setiap hari, menemui-Nya bersama para malaikat turun ke bumi di 1/3 malam yang indah dan puasa sunnah. Tak pernah sedikitpun mengeluh capek melakukan hal-hal itu, mereka jalani dengan hati ikhlas dan lapang. Terkadang jika melihat mereka, ada rasa sesak yang menghampiri dada saya. Terharu melihat kesederhanaan dan ketulusan itu…
Banyak orang memandang sebelah mata terhadap orang lain yang tidak mempunyai “pekerjaan duniawi”. Entahlah, fenomena umum ini menjamur dimana-mana di muka bumi ini. Hampir 4 tahun berada di lingkungan ibukota, membuat saya rindu pada lingkungan yang bisa mengajak saya untuk kembali pada “indahnya hidup”. Selalu berdoa, agar waktu itu tiba sebelum nyawa terlepas dari raga.
Ketika hati terbentuk kokoh dan kuat, rasa iri itu hanya akan ditujukan pada orang-orang pemilik kekayaan “akhirat”. Dunia hanyalah terminal, akhiratlah tempat persinggahan yang abadi. Selalu teruntai doa dalam setiap nafas: “Ya Allah Maha Pemilik alam semesta, jangan pernah Engkau biarkan aku tersesat dalam surga dunia ini, jangan pernah kau biarkan aku menjadi “hubbuddunya”, dekatkanlah aku pada-Mu selalu, jangan pernah dunia ini mengambil hatiku untuk pernah berpaling dari-Mu”.
Ya Allah, untuk terbentuk mulia, aku yakin diperlukan tempaan hati yang kuat dan kokoh. Aku berharap, waktu impianku itu akan segera tiba,tapi aku tahu,kesabaran itu juga perlu diuji……